Powered By Blogger

Cari Blog Ini

Selasa, 16 Juni 2015

Satu Kesempatan


Setelah lama aku merasakan cinta, akhirnya aku berstatus pacaran. Dan memulai kehidupan baru. Memang benar. Cinta itu tak perlu 100% akan berbuah harmonis dan tentram. Saling percaya, tak ada khawatir berlebihan. Meski tetap kadang bertengkar kecil, karna masalah waktu. Dia (dwi) ,libur kerjanya hari minggu. Sedangkan aku hari jum'at. Jadi tiap minggu dia ke tempat kerjaku, dan tiap jum'at dia menjemputku untuk makan malam setelah dia pulang kerja. Hebat ya dia.. Bahkan kadang dia bolos kerja hanya untuk keluar denganku. Dan dia tak pernah mengeluhkan itu. Memang dia sifatnya sangat dewasa melebihi diriku meski umur kita terpaut sekitar 6 bulanan lebih tua aku. Malahan aku yang slalu di kasih arahan baik karna kemanjaanku.. Dia memang luar biasa,dan karna kedewasaannya itu membawa kepada suatu pilihan baginya. Suatu ketika, dia sebagai wanita sudah saatnya dia untuk melangkah menuju rumah tangga. Sedangkan aku, pekerjaanku saja masih belum mapan. Sebenarnya dia ingin memperkenalkanku pada keluarganya, namun karna aku belum mapan, dia tak pernah melakukan itu. Pastilah jika aku dikenalkan pada orangtuanya,akan disuruh langsung menikah. Dia takut melangkah ke pelaminan melihat kurang mapannya aku. Begitupun aku. Sampai suatu saat, dia dijodohkan orang tuanya. Memang dia jujur denganku dengan alasan itu dan memutuskan hubungan kita. Pastilah aku merasakan sakit.. Mulai dari sini aku ceritakan orang ketiga yang akan mengisi hidupku. Baru akan ya.. Hehehe.. Sebut dia Tri. Sebenarnya pertama kali aku bertemu Tri, sudah ada sinyal sinyal perasaan jauh sebelum aku kenal Eka dan Dwi. Karna kita adalah rekan kerja. Namun dalam hati aku tak pernah sedikit pun akan bisa dicintainya. Secara dia adalah tipe wanita yang memilih laki" yang bisa memberikan fasilitas. Fasilitas disini adalah sebuah keutamaan. Jika dia butuh sesuatu, silaki" siap. Sedangkan aku, untuk diriku sendiri saja pas pasan. Namun dia sejak lama sudah memberikan isyarat isyarat. Hanya aku yang kurang peka. Mana mungkin Tri bisa mencintaiku, mungkin hanya perhatian sebagai sahabat. Dalam fikiranku menepis isyarat dari Tri. Karna aku tak ingin terlalu berharap. Hingga saat aku sudah putus dengan Dwi, Tri memberikan isyaratnya , memang aku tak pernah sadar. Karna aku juga masih masa berkabung setelah aku putus dengan Dwi. Disamping itu Tri juga sudah berpacaran dengan orang lain. Setelah beberapa bulan, Dwi hadir kembali. Tiba tiba dia bilang meminta balikan pacaran denganku. Dia menceritakan kenapa dia bisa meninggalkan calon suami yang ibunya pilihkan. Karna laki" tersebut tidak seperti apa yang diharapkan ibunya Dwi. Malah ibunya Dwi yang meminta untuk memutuskannya. Tak perlu lah aku sebutkan kejelekan orang, pokoknya alasan itu membuat Dwi kembali padaku. Aku menerimanya dan memaafkannya setelah dia meninggalkanku. Disaat yang hampir sama, Tri memutuskan hubungan dengan pacarnya, karna dia sebenarnya menginginkanku. Meski aku sendiri tidak tahu. Setiap Dwi datang ketempat kerjaku, masih seperti dulu tiap libur pasti menemuiku ditempat lerjaku. Tri selalu marah denganku. Aku tak pernah sadar jika dia cemburu oleh Dwi. Dan waktu berjalan semakin lama. Akhirnya Tri memiliki pacar baru, mungkin karna dia lelah menantiku. Meski status hubunganya aku tau bukan karna cinta. Hanya pacarnya yang cinta Tri, tapi Tri tidak. Aku pacaran dengan Dwi, dan Tri sudah memiliki pacar jg. Masih saja Tri memberikan sinyal terhadapku. Dan masih sama aku tak pernah menyadarinya. Apalagi aku sudah punya Dwi. Sifatku memang sangat mengutamakan kesetiaan. Jadi tak kan pernah aku bisa berpaling dan mendua dengan Tri. Apalagi Tri jg sudah punya pacar. Masa berlalu dan suatu ketika Dwi ingin bilang serius terhadapku. Dia bilang kepadaku ingin meninggalkanku. Dia ingin pergi jauh keluar pulau untuk meniti karir menyusul kakaknya. Mungkin jika saat itu aku sudah mapan, aku bisa menghalangi niatnya dan mengajaknya melangkah ke pelaminan. Saat itu aku tak kuasa menahan sakit dan kutateskan airmata didepannya. Meski awalnya cinta ini padanya tidak begitu dalam. Namun setelah apa yang kita lalui selama ini yang membuat tumbuhnya cintaku padanyalah yang akhirnya kuteteskan airmata. Untung waktu itu ditempat sedikit agag gelap meski ditempat ramai. Jadi, tak khawatir jika aku menangis saat itu juga. Dan memang aku tak peduli jg mau dimana. Sakit, sakit saja hati ini. Lama kita bernegosiasi, akhirnya mau tidak mau aku bisa menerima keadaan itu. Dan dalam hati kecilku, suatu saat aku bisa menyusulnya dan bersama lagi. Setelah itu kita berpisah. Namun aku masih mencintainya, dan masih bertekat suatu saat bisa menyusulnya. Dan kita masih kontek kontekan lewat sms. Dia belum berangkat karna menunggu sesuatu. Suatu saat dia pamit padaku pergi ke luar kota. Masih belum keluar jawa, hehe.. Kerumah neneknya dia bilang. Aku percaya saja, karna selama dulu kita pacaran, kepercayaan itu kuat kepadanya. Namun tak lama setelah itu aku mendengar dari temannya jika dia sudah punya pacar. Dan pacarnya beralamat kota tujuan yang waktu dulu dia pamit kerumah neneknya kepadaku. Wuuuh..... Langsung saja rasa cinta ini berubah total. Berbalik aku tak ada perasaan sama sekali. Dan akhirnya aku terpuruk.. Patah hati... Kempatan untuk Dwi tak kan pernah aku berikan, setelah apa yang dia lakukan terhadapku. Jika suatu saat dia kembali.

Selasa, 27 Januari 2015

Pacar Pertama Meski Bukan Cinta Pertama


Seorang kedua setelah Eka, sebut dia Dwi. Dia adalah temannya temanku. Aku sangat akrab saat itu.. Karna dia sering diajak makan sama temenku ditempat kerjaku. Makin lama makin nyaman. Dan akhirnya aku tau jika dia ada rasa denganku. Karna sebenarnya aku tak pernah ada rasa yang namanya cinta seperti sebelumnya,namun aku nyaman dengan dia. Saat itu juga sebenarnya ada satu wanita lagi yang menyukaiku. Dia adalah temannya Eka,aku gak tau apa maksudnya. Tp Eka lah yang mengenalkan aku padanya. Dia memperhatikanku saat ulang tahunku bahkan dia memberi kado. Namun aku tak pernah ada perasaan apa apa padanya. Tetap aku masih mencintai Eka. Hingga mungkin setahun lebih akhirnya benar Eka datang menemuiku.. Namun sayang,saat itu aku sudah dekat dengan Dwi. Tanpa cinta memang,namun aku tau pasti Dwi sedang menungguku untuk aku katakan cinta padanya. Saat itulah pilihanku dipertaruhkan. Dari lubuk hatiku masih mencintai Eka sekalipun dulu dia pernah menyakitiku dengan menolak dan meninggalkanku. Tp disisi lain aku menggantungkan harapan Dwi yang mencintaiku. Jika aku menerima Eka,berarti aku akan menyakiti Dwi. Disini tidak ada yang tau bagaimana perasaanku sebenarnya. Cinta Eka namun aku menggantung hubungan Dwi. Akhirnya kuputuskan untuk tidak menerima Eka kembali. Kukorbankan cintaku padanya. Dan bahkan temenku yang sepupunya Eka sendiri setuju dengan keputusanku untuk menolak Eka,dengan alasan karna dia dulu sudah menyakitiku sedemikian rupa. Tp sebenarnya aku jg sudah memaafkannya dan masih mencintainya. Dan berakhirlah antara aku dan Eka. Setelah kedatangan dan penyesalannya tak ada lagi hubungan apapun setelah itu. Kembali pada Dwi,setelah kedatangan Eka. Aku fokuskan ke Dwi. Bagaimana caranya bilang cinta padanya. Aku sama sekali tak berani. Hingga satu saat aku janjian dengannya. Disebuah cafe. Waktu itu aku libur dan pulang kerumah karna ada urusan yang mengharuskan aku pulang. Dan sore aku harus sampai ke kota dimana aku kerja. Tentunya malam hari aku ada janji dengan Dwi. Disini keseriusanku diuji,saat aku akan menuju ke kota / pulang ke tempat kerja, ditengah perjalanan hujan turun sangat lebat. Yang saat itu aku tak bawa jas hujan. Aku berhenti dan nerteduh dirumah seseorang. Kunanti hujannya hingga reda,apa dikata hujan ga reda reda lebatnya. Aku putuskan jika nanti sampai jam 5 hujan belum reda,akan kuterobos hujan ini. Karna perjalanan waktunya masih sekitar 1jam lebih dari tempat aku berteduh . Kutunggu dan kulihat, hujan tak berkurang langit mendung merata pasti merata hujannya,dalam benakku. Hingga waktu menunjukkan pukul 17.00 ,hujan tak kunjung reda. Seperti tadi rencanaku akan menerobos hujan, Kulakukan. Demi cinta kataku.. Hehehe... Saat sudah tubuh ini basah kuyup kedinginan, tidak jauh melaju hujannya berangsur angsur hilang.. Benar saja, yang hujan lebat hanya disana tadi.. Hingga sampai tempat aku kerja jacket yang aku pekai kering dari basah kuyup karna terkena angin saat perjalanan..tak lama setelah aku sampai, Dwi menjemputku. Kita pergi ketempat janjian kita. Kata anak gaul ngedat. Sebenarnya aku bingung mau nembak Dwi, Takut. Padahal jelas jelas Dwi menungguku untuk nyatakan cinta. Pernah aku tanya sama temanku tentang gmn caranya nembak cewek. Dikasih saran pakai bunga atau semacamnya.. Sarannya aku ambil, saat itu aku sudah menyiapkan setangkai bunga, ga banyaklah bingung nyembunyiinnya. Lama kita ngobrol-ngobrol. Karna masih takut aku,gimana cara memulainya. Kuberanikan diri,dan kuambil bunga yang ku simpan dibalik baju. Aku bilang maukah kau jadi pacarku. Jika mau,ambillah bunga ini,jika tidak mau, tak perlu kau ambil. Lalu dia mengambil bunga tersebut dan bilang dia bersedia jadi pacarku.. Saat itu baru pertama kali statusku berpacaran resmi. Karna ada acara tembak menembak.. Hehehe...

Minggu, 25 Januari 2015

Cinta Pertamaku


Assalamualaikum.. Kisah ini adalah kisah perjalanan cinta saya sendiri. Sebelumnya saya minta maaf jika nanti dalam tulisan ini menyinggung hati seseorang. Karna semua manusia bersifat lain lain dan punya kekurangan masing-masing. Cerita ini dimulai saat aku menemukan seorang yang aku anggap cinta pertamaku. Dia (sebut saja eka)karna pertama biar mudah nyebutnya.. Hehe 😁 Eka adalah saudara sepupu teman kerjaku. Dan temankulah yang mengenalkannya padaku. Cocok pikirnya. Aku hanya diberitahu seperti apa Eka dan hanya dikasih nomer handphonenya saja saat itu. Kita kenalan lewat sms dan kadang telfon. Meski jarang telfon sebenernya. Makin lama aku rasa nyambung sama Eka. Dan kita ada kesempatan bertemu. Ketika waktu itu Eka kerumah kakaknya. Seperti biasa saat hari raya Idul Fitri qda acara halal bihalal kerumah-rumah saudara. Kita sudah janjian, jadi. Saat Eka kerumah kakaknya aku jg kesana,tp aku sama temanku. Secara temanku adalah sepupunya.. Biasa, modus cinta.. Hehe 😁 Waktu sangat singkat. Kami hanya bertemu beberapa menit.bahkan hanya beberapa detik. Karna Eka harus kerja. Dan kakaknya jg blm tau jika maksud kedatanganku untuk bertemu dengan Eka. Hanya beberapa patah kata. Seuntai senyuman. Setelah pertemuan itu aku merasa jatuh cinta dengannya. Dan aku rasa Eka jg. Waktu berjalan kami sms sudah seperti punya hubungan special meski tak ada kata kita pacaran. Kalu jaman sekarang mungkin namanya HTS (hubungantanpastatus) namun kita sudah punya komitmen saling setia. Bisa dibilang aku ini cowok romantis.. Hehehe kepedean.. Karna apa aku slalu menghawatirkannya kemanapun dia pergi. Dan tak jarang saat Eka ulang tahun aku kirimkan kado atau saat valentine ku kirim bunga. Hubunganku dengannya sudah lama berlangsung meski kita tidak pernah bertemu. Hanya 1 kali.. Dan kedua kalinya saat aku mengantar kado ulang tahunnya sendiri. Karna aku ingin bertemu dengannya lagi. Sama seperti pertemuan pertama,hanya sekejap bertemu. Bulan bulan berlalu tanpa terasa hampir 1tahun mungkin. Aku bilang kepadanya untuk menjadi pacarku.. Namun dia menolak dengan alasan kakak laki-lakinya melarang dia pacaran. Mengingat dia masih belum dewasa. Saat itu dia berumur 19 tahun aku berumur 20 tahun. Sebenarnya dia slalu bilang sama aku jika aku adalah orang yang tepat menjadi pendamping hidupnya. Tp dia tak pernah berani mengabaikan kakaknya. Akhirnya aku bilang ke dia untug backstreet (hubungan tanpa diketahui orang lain). Tetap saja dia tidak mau. Meski pernah aku memberanikan diri datang kerumahnya sekalipun nanti aku dihajar sama kakaknya. Ga takut lah pikirku.. Dan saat itulah aku mengalami yang namanya patah hati,sungguh hancurnya perasaan ini yang belum pernah merasakan sebelumnya. Karna saat dia bilang tdk berani menerobos perintah kakaknya dia menjauhiku. Aku tidak tau saat itu apa yang dia rasakan. Namun yang aku rasakan adalah tak pernah menyerah. Slalu dan slalu menghubunginya meski tak ada respon dari dia. Sampai pernah saya dibilang gila sama dia. Dan memang gila. Cinta itu gila.. Dan nomernya tak pernah aktif setelahnnya. Aku seperti stress. Ga nafsu makan. 1hari kadang cuman 1 kali saat sore saja. Akhirnya aku berfikir kenapa aku tak puasa saja. Kan sama-sama ga makan. Tp kalau puasa kan dapat pahala. Hanya 3hari aku puasa. Aku sudah dimarahi sama temen kerjaku.. Aku kerja di rumah makan. Jadi temanku ibu-ibu jg ada. Dan pastinya lebih memperhatikanku seperti keluarga sendiri.. Waktu move on ku begitu lama. Dan dalam waktu itu aku tetap berharap dia akan kembali dan memintaku untuk menjadi imamnya.. Tak pernah hilang rasa cinta itu. Kulalui dengan kuperbanyak bergaul dengan teman. Hingga muncul seseorang.. Bersambung

Jumat, 04 Oktober 2013

Pentingnya Sunnah Rasulullah SAW


Dari Anas bin Malik ra. katanya, Rasulullah SAW telah berkata kepadaku: 'Hai anakku! Jika engkau mampu tidak menyimpan dendam kepada orang lain sejak dari pagi sampai ke petangmu, hendaklah engkau kekalkan kelakuan itu! Kemudian beliau menyambung pula: Hai anakku! Itulah perjalananku (sunnahku), dan barangsiapa yang menyukai sunnahku, maka dia telah menyukaiku, dan barangsiapa yang menyukaiku, dia akan berada denganku di dalam syurga! ' (Riwayat Tarmidzi) Dari Ibnu Abbas ra. bahwa Nabi SAW yang berkata: "Barangsiapa yang berpegang dengan sunnahku, ketika merata kerusakan pada ummatku, maka baginya pahala seratus orang yang mati syahid". (Riwayat Baihaqi) Dalam riwayat Thabarani dari Abu Hurairah ra. ada sedikit perbedaan, yaitu katanya: Baginya pahala orang yang mati syahid. (At-Targhib Wat-Tarhib 1: 44) Thabarani dan Abu Nu'aim telah mengeluarkan sebuah Hadis marfuk yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah ra. bahwa Nabi SAW telah bersabda: Orang yang berpegang kepada sunnahku dalam zaman kerusakan ummatku akan mendapat pahala orang yang mati syahid. Hakim pula meriwayatkan dari Abu Hurairah ra. juga bahwa Nabi SAW telah berkata: Orang yang berpegang kepada sunnahku dalam masa perselisihan diantara ummatku adalah seperti orang yang menggenggam bara api. (Kanzul Ummal 1: 47) Dan Muslim pula meriwayatkan dari Anas ra. dari Rasulullah SAW katanya: Orang yang tidak suka kepada sunnahku, bukanlah dia dari golonganku! Demikian pula yang dikeluarkan oleh Ibnu Asakir dari Ibnu Umar ra. cuma ada tambahan di permulaannya berbunyi: Barangsiapa yang berpegang kepada sunnahku, maka dia dari golonganku. Kemudian Daraquthni pula mengeluarkan sebuah Hadis dari Siti Aisyah r.a. dari Nabi SAW katanya: Sesiapa yang berpegang kepada sunnahku akan memasuki syurga! Dan dikeluarkan oleh As-Sajzi dari Anas ra. dari Nabi SAW katanya: Barangsiapa yang menghidupkan sunnahku, maka dia telah mengasihiku, dan siapa yang mengasihiku dia akan memasuki syurga bersama-sama aku!

Diamnya Nabi Muhammad SAW


Berkata Al-Hasan r.a. lagi: Saya pun menanyakan pula tentang diamnya, bagaimana pula keadaannya? Jawabnya: Diam Rasulullah SAW bergantung kepada mempertimbangkan empat hal, yaitu: Kerana adab sopan santun, kerana berhati-hati, kerana mempertimbangkan sesuatu di antara manusia, dan kerana bertafakkur. Adapun sebab pertimbangannya ialah kerana persamaannya dalam pandangan dan pendengaran di antara manusia. Adapun tentang tafakkurnya ialah pada apa yang kekal dan yang binasa. Dan terkumpul pula dalam peribadinya sifat-sifat kesantunan dan kesabaran. Tidak ada sesuatu yang boleh menyebabkan dia menjadi marah, ataupun menjadikannya membenci. Dan terkumpul dalam peribadinya sifat berhati-hati dalam empat perkara, iaitu: Suka membuat yang baik-baik dan melaksanakannya untuk kepentingan ummat dalam hal-ehwal mereka yang berkaitan dengan dunia mahupun akhirat, agar dapat dicontohi oleh yang lain. Baginda meninggalkan yang buruk, agar dijauhi dan tidak dibuat oleh yang lain. Bersungguh-sungguh mencari jalan yang baik untuk maslahat ummatnya, dan melakukan apa yang dapat mendatangkan manfaat buat ummatnya, baik buat dunia ataupun buat akhirat. (Nukilan Thabarani - Majma'uz-Zawa'id 8:275)

Majlis Nabi Muhammad SAW


Berkata Al-Hasan ra. lagi: Saya lalu bertanya pula tentang majelis Nabi SAW dan bagaimana caranya ? Jawabnya: Bahwa Rasulullah SAW tidak duduk dalam sesuatu majelis, atau bangun daripadanya, melainkan baginda berzikir kepada Allah SWT baginda tidak pernah memilih tempat yang tertentu, dan melarang orang meminta ditempatkan di suatu tempat yang tertentu. Apabila baginda sampai kepada sesuatu tempat, di situlah baginda duduk sehingga selesai majelis itu dan baginda menyuruh membuat seperti itu. Bila berhadapan dengan orang ramai diberikan pandangannya kepada semua orang dengan sama rata, sehingga orang-orang yang berada di majelisnya itu merasa tiada seorang pun yang diberikan penghormatan lebih darinya. Bila ada orang yang datang kepadanya kerana sesuatu keperluan, atau sesuatu masliahat, baginda terus melayaninya dengan penuh kesabaran hinggalah orang itu bangun dan kembali. Baginda tidak pernah menghampakan orang yang meminta daripadanya sesuatu keperluan, jika ada diberikan kepadanya, dan jika tidak ada dijawabnya dengan kata-kata yang tidak mengecewakan hatinya. Budipekertinya sangat baik, dan perilakunya sungguh bijak. Baginda dianggap semua orang seperti ayah, dan mereka dipandang di sisinya semuanya sama dalam hal kebenaran, tidak berat sebelah. Majelisnya semuanya ramah-tamah, segan-silu, sabar menunggu, amanah, tidak pemah terdengar suara yang tinggi, tidak dibuat padanya segala yang dilarangi, tidak disebut yang jijik dan buruk, semua orang sama kecuali dengan kelebihan taqwa, semuanya merendah diri, yang tua dihormati yang muda, dan yang muda dirahmati yang tua, yang perlu selalu diutamakan, yang asing selalu didahulukan. Berkata Al-Hasan ra. lagi: Saya pun lalu menanyakan tentang kelakuan Rasulullah SAW pada orang-orang yang selalu duduk-duduk bersama-sama dengannya? Jawabnya: Adalah Rasulullah SAW selalu periang orangnya, pekertinya mudah dilayan, seialu berlemah-lembut, tidak keras atau bengis, tidak kasar atau suka berteriak-teriak, kata-katanya tidak kotor, tidak banyak bergurau atau beromong kosong segera melupakan apa yang tiada disukainya, tidak pernah mengecewakan orang yang berharap kepadanya, tidak suka menjadikan orang berputus asa. Sangat jelas dalam perilakunya tiga perkara yang berikut. Baginda tidak suka mencela orang dan memburukkannya. Baginda tidak suka mencari-cari keaiban orang dan tidak berbicara mengenai seseorang kecuali yang mendatangkan faedah dan menghasilkan pahala. Apabila baginda berbicara, semua orang yang berada dalam majelisnya memperhatikannya dengan tekun seolah-olah burung sedang tertengger di atas kepala mereka. Bila baginda berhenti berbicara, mereka baru mula berbicara, dan bila dia berbicara pula, semua mereka berdiam seribu basa. Mereka tidak pernah bertengkar di hadapannya. Baginda tertawa bila dilihatnya mereka tertawa, dan baginda merasa takjub bila mereka merasa takjub. Baginda selalu bersabar bila didatangi orang badwi yang seringkali bersifat kasar dan suka mendesak ketika meminta sesuatu daripadanya tanpa mahu mengalah atau menunggu, sehingga terkadang para sahabatnya merasa jengkel dan kurang senang, tetapi baginda tetap menyabarkan mereka dengan berkata: "Jika kamu dapati seseorang yang perlu datang, hendaklah kamu menolongnya dan jangan menghardiknya!". Baginda juga tidak mengharapkan pujian daripada siapa yang ditolongnya, dan kalau mereka mau memujinya pun, baginda tidak menggalakkan untuk berbuat begitu. Baginda tidak pernah memotong bicara sesiapa pun sehingga orang itu habis berbicara, lalu barulah baginda berbicara, atau baginda menjauh dari tempat itu.

Luaran Nabi muhammad SAW


Berkata Al-Hasan r.a. lagi: Kemudian saya bertanya tentang keadaannya di luar, dan apa yang dibuatnya? Jawabnya: Adalah Rasulullah SAW ketika di luar, senantiasa mengunci lidahnya, kecuali jika memang ada kepentingan untuk ummatnya. Baginda selalu beramah-tamah kepada mereka, dan tidak kasar dalam bicaranya. Baginda senantiasa memuliakan ketua setiap suku dan kaum dan meletakkan masing-masing di tempatnya yang layak. Kadang-kadang baginda mengingatkan orang ramai, tetapi baginda senantiasa menjaga hati mereka agar tidak dinampakkan pada mereka selain mukanya yang manis dan akhlaknya yang mulia. Baginda selalu menanyakan sahabat-sahabatnya bila mereka tidak datang, dan selalu bertanyakan berita orang ramai dan apa yang ditanggunginya. Mana yang baik dipuji dan dianjurkan, dan mana yang buruk dicela dan dicegahkan. Baginda senantiasa bersikap pertengahan dalam segala perkara, tidak banyak membantah, tidak pernah lalai supaya mereka juga tidak suka lalai atau menyeleweng, semua perkaranya baik dan terjaga, tidak pernah meremehkan atau menyeleweng dari kebenaran, orang-orang yang senantiasa mendampinginya ialah orang-orang paling baik kelakuannya, yang dipandang utama di sampingnya, yang paling banyak dapat memberi nasihat, yang paling tinggi kedudukannya, yang paling bersedia untuk berkorban dan membantu dalam apa keadaan sekalipun.