Powered By Blogger

Cari Blog Ini

Rabu, 14 April 2010

Tentang Hajar Aswad

Hajar Aswad (Batu Hitam/Black Stone) diyakini sebagai batu surga. Oleh karena itu tidak heran jika jemaah haji dari seluruh pelosok penjuru dunia selalu merindukannya, bahkan saling berebut hanya karena ingin menciumnya.


Batu hitam itu terletak di sudut Selatan Ka’bah pada ketinggian 1,10 meter dari lantai Masjidil Haram berukuran panjang 25 cm dan lebar 17 cm. Sekarang ini, Hajar Aswad pecah menjadi 8 bongkah dan kedelapan bongkahan itu masih tersusun rapi pada tempatnya seperti sekarang.

Sumber Gambar dari www.sunna.info
Pecahnya batu itu terjadi pada zaman Qaramithah, yaitu sekte dari Syi’ah Al-Bathiniyyah dari pengikut Abu Thahir Al-Qaramathi yang mencabut Hajar Aswad dan membawanya ke Ihsa’ pada tahun 319 Hijriyah. Tetapi batu itu dikembalikan lagi pada tahun 339 Hijriah.
Gugusan yang terbesar berukuran sebuah kurma yang tertanam di batu besar lain dan dikelilingi oleh ikatan perak. Inilah batu yang senantiasa dirindui setiap Muslim dan berusaha untuk dapat menciumnya atau ber-ihtilam (menyalaminya atau mencium tangan ketika tawaf). Batu yang terletak dalam lingkaran perak itulah yang diusahakan jemaah haji untuk dapat menciumnya, artinya bukan batu yang berada di sekitarnya.
Hajar Aswad pernah mengalami renovasi pada zaman Raja Fahd, yaitu pada bulan Rabi’ulawal 1422 Hijriyah. Setiap tahun menjelang musim haji, batu ini dibersihkan sekaligus dilakukan pencucian Ka’bah yang kadang-kadang memberi kesempatan kepada tamu-tamu kerajaan menyaksikan pencucian Ka’bah ini sekaligus mencium Hajar Aswad.
Kisah mengenai Hajar Aswad sebagai berikut:
Ketika Nabi Ibrahim as. bersama anaknya membangun Ka’bah, banyak kekurangan yang dialaminya. Pada awal mulanya dulu, Ka’bah tidak memiliki pintu masuk. Nabi Ibrahim as. bersama Nabi Ismail as. berikhtiar untuk membuatnya dengan mengangkut batu dari berbagai gunung. Dalam sebuah kisah disebutkan pada waktu pembangunan Ka’bah hampir selesai, ternyata Nabi Ibrahim as. masih merasakan kekurangan sebuah batu lagi untuk diletakkan di Ka’bah. Nabi Ibrahim as. berkata kepada Nabi Ismail as., “Pergilah engkau mencari sebuah batu yang akan aku letakkan sebagai penanda bagi manusia.”
Kemudian Nabi Ismail as. pun pergi dari satu bukit kebukit yang lain untuk mencari batu yang baik dan sesuai. Ketika Nabi Ismail as. sedang mencari batu di sebuah bukit, tiba-tiba datang malaikat Jibril as. memberikan sebuah batu yang cantik. Nabi Ismail dengan segera membawa batu itu kepada Nabi Ibrahim as. Nabi Ibrahim as. merasa gembira melihat batu yang sungguh cantik itu, beliau menciumnya beberapa kali.
Kemudian Nabi Ibrahim as. bertanya, “Dari mana kamu dapat batu ini?” Nabi Ismail as. menjawab, “Batu ini kuterima dari yang tidak memberatkan cucuku dan cucumu (Jibril).” Nabi Ibrahim as. mencium lagi batu itu dan diikuti oleh Nabi Ismail as. Sampai sekarang Hajar Aswad itu dicium oleh orang-orang yang pergi ke Baitullah. Siapa saja yang bertawaf di Ka’bah disunnahkan mencium Hajar Aswad. Beratus ribu kaum muslimin berebut ingin mencium Hajar Aswad itu, yang tidak mencium cukuplah dengan memberikan isyarat lambaian tangan saja dari jauh.
Ada riwayat menyatakan bahwa dulunya batu Hajar Aswad itu berwarna putih bersih, tetapi akibat dicium oleh setiap orang yang datang menziarahi Ka’bah, akhirnya menjadi hitam seperti terdapat sekarang.
Ingatlah kata-kata Khalifah Umar bin Al-Khattab ketika beliau mencium batu itu (Hajar Aswad), “Aku tahu, sesungguhnya engkau hanyalah batu biasa. Andaikan aku tidak melihat Rasulullah mengecupmu, sudah barang tentu aku tidak akan melakukan (mengecup Hajar Aswad).”


Sumber Gambar dari www.ezsoftech.com
Riwayat Panjang Hajar Aswad
1. Yang pertama kali meletakkan Hajar Aswad adalah Nabi Ibrahim as. dan batu itu adalah permata yang berasal dari Surga.

2. Ketika Bani Bakar bin Abdi Manaf bin Kinanah bin Ghaisyan bin Khaza'ah mengusir keturunan Jurhum dari Mekah, Amr bin Harits bin Madhadh Al Jurhumi keluar membawa dua patung emas kepala rusa dan Hajar Aswad dipendam di sumur Zamzam, seterusnya mereka berangkat menuju Yaman.
3. Pemendaman Hajar Aswad di dalam sumur Ka’bah tidak bertahan lama karena seorang wanita dari Khaza`ah memberitahukan kepada kaumnya bahwa dia melihat orang Jurhum memendam Hajar Aswad di sumur Zamzam. Kemudian mereka meletakkan Hajar Aswad kembali ke tempatnya. Hal ini terjadi sebelum pembangunan oleh Qushay bin Kilab.

4. Setelah Mekah dikuasai oleh suku Qaramitah di bawah pimpinan Abu Tahir Al Qarmuthi, mereka membantai 1700 orang di Mesjidilharam, sebagian bergelantungan di Ka’bah kemudian mereka memenuhi sumur Zamzam dengan mayat-mayat. Mereka merampas harta orang-orang dan perhiasan Ka’bah, merobek-robek kiswah penutup Ka’bah dan membagikannya kepada kawan-kawannya, merampok benda-benda berharga dalam Ka’bah, melepas pintu Ka’bah dan memerintahkan pula untuk mengambil talang emasnya. Pada tanggal 7 Zulhijah tahun 317 H, Abu Tahir Al Qarmuthi menduduki kota Mekah dan mencopot Hajar Aswad dari tempatnya secara paksa. Abu Tahir memerintahkan Jakfar bin Ilaj untuk mencopot Hajar Aswad dan membawanya pada tanggal 7 Zulhijah 317 H. Setelah dia melakukan kebiadaban dengan membunuh orang-orang yang sedang tawaf, iktikaf dan salat. Mereka membawa Hajar Aswad ke negerinya. Setelah itu tempat Hajar Aswad kosong. Orang-orang yang tawaf hanya meletakkan tangannya di tempatnya saja untuk mendapatkan berkahnya. Akhirnya Hajar Aswad dikembalikan ke tempatnya pada hari Selasa tanggal 10 Zulhijah tahun 339 H. setelah 22 tahun Ka’bah kosong dari Hajar Aswad.

5. Pada tahun 363 H. datang seorang laki-laki dari Romawi. Saat ia mendekati Hajar Aswad, ia mengambil cangkul dan memukulkannya dengan kuat ke pojok tempat Hajar Aswad hingga berbekas. Ketika ia akan mengulangi perbuatannya, seorang Yaman datang dan menikamnya sampai roboh.

6. Pada tahun 413 H. Bani Fatimiyah mengirim sebagian pengikutnya dari Mesir di bawah pimpinan Hakim Al Abidi, di antaranya ada seorang laki-laki yang berkulit merah dan berambut pirang serta berbadan tinggi besar, sebelah tangannya menghunus pedang sedang yang sebelah memegang pahat, lalu dipukulkannya ke Hajar Aswad sebanyak tiga kali hingga pecah dan berjatuhan, sambil berkata, "Sampai kapan Batu hitam ini disembah, sekarang tidak ada Muhammad atau Ali yang dapat melarangku dari perbuatanku, kini aku ingin menghancurkan Kakbah." Kemudian pasukan berkumpul untuk membunuh dia dan berikut para pembantunya.

7. Pada tahun 990 H. datang seorang laki-laki asing (bukan orang Arab) membawa sejenis kampak dan dipukulkannya ke Hajar Aswad, Pangeran Nashir menikamnya dengan belati hingga mati.

8. Di akhir bulan Muharram tahun 1351 H. datang seorang laki-laki dari Afghanistan. Ia mencungkil pecahan Hajar Aswad dan mencuri potongan kain Kiswah serta sepotong perak pada tangga Ka’bah. Penjaga masjid mengetahui perbuatan itu kemudian menangkapnya, diapun dihukum mati. Pada tanggal 28 Rabiul Akhir tahun 1351 H, datang Raja Abdul Aziz bin Abdur Rahman Al Faisal As Saud ke Mesjidharam dalam rangka perekatan pecahan Hajar Aswad akibat perbuatan tentara terkutuk tadi. Perekatan tersebut dilakukan setelah diadakan penelitian oleh para ahli untuk menentukan bahan khusus yang digunakan untuk merekat batu pecahan Hajar Aswad yaitu berupa bahan kimia yang dicampur dengan minyak misik dan ambar.
-----Kombinasi dari berbagai sumber-----

Kisah Pembangunan Ka’bah dan Peletakan Hajar Aswad

Desember 12, 2007 oleh Abu Umar

Ketika Rasulullah berusia tiga puluh lima tahun, beliau belum diangkat oleh Allah sebagai seorang nabi. Waktu itu kota Makkah dilanda banjir besar yang meluap sampai ke Masjidil Haram. Orang-orang Quraisy menjadi khawatir banjir ini akan dapat meruntuhkan Ka’bah.

Selain itu, bangunan Ka’bah dulunya belumlah beratap. Tingginya pun hanya sembilan hasta. Ini menyebabkan orang begitu mudah untuk memanjatnya dan mencuri barang-barang berharga yang ada di dalamnya.

Oleh karena itu bangsa Quraisy akhirnya sepakat untuk memperbaiki bangunan Ka’bah tersebut dengan terlebih dahulu merobohkannya.

Untuk perbaikan Ka’bah ini, orang-orang Quraisy hanya menggunakan harta yang baik-baik saja. Mereka tidak menerima harta dari hasil melacur, riba dan hasil perampasan.

Di awal-awal perbaikan, pada awalnya mereka masih takut untuk merobohkan Ka’bah. Akhirnya salah seorang dari mereka yang bernama Al-Walid bin Al-Mughirah Al-Makhzumy bangkit mengawali perobohan tersebut. Setelah melihat tidak ada hal buruk yang terjadi pada Al-Walid, orang-orang Quraisy pun mulai ikut merobohkan Ka’bah sampai ke bagian rukun Ibrahim.

Mereka kemudian membagi sudut-sudut Ka’bah dan mengkhususkan setiap kabilah dengan bagian-bagiannya sendiri. Pembangunan kembali Ka’bah ini dipimpin oleh seorang arsitek dari bangsa Romawi yang bernama Baqum.

Rasulullah ikut Membangun
Rasulullah sendiri ikut bersama-sama yang lain membangun kabah. Beliau bergabung bersama paman beliau Abbas radhiyallahu ‘anhu. Ketika beliau mengambil batu-batu, Abbas menyarankan kepada beliau untuk mengangkat jubah beliau hingga di atas lutut. Namun Allah menakdirkan agar aurat beliau senantiasa tertutup, sehingga belum sempat beliau mengangkat jubahnya, beliau jatuh terjerembab ke tanah.

Beliau kemudian memandang ke atas langit sambil berkata, “Ini gara-gara jubahku, ini gara-gara jubahku”. Setelah itu aurat beliau tidaklah pernah terlihat lagi.

Peletakan Hajar Aswad
Sebelum kita lanjutkan kisah ini, tahukah kalian apa itu hajar aswad?

Hajar Aswad adalah sebuah batu yang diturunkan oleh Allah subhanahu wa ta’ala dari surga. Dulu batu itu berwarna putih, namun karena dosa-dosa anak Adam, maka batu itu pun berubah menjadi berwarna hitam.

Nah, ketika pembangunan sudah sampai ke bagian Hajar Aswad, bangsa Quraisy berselisih tentang siapa yang mendapatkan kehormatan untuk meletakkan Hajar Aswad ke tempatnya semula. Mereka berselisih sampai empat atau lima hari. Perselisihan ini bahkan hampir menyebabkan pertumpahan darah.

Abu Umayyah bin Al-Mughirah Al-Makhzumi kemudian memberikan saran kepada mereka agar menyerahkan keputusan kepada orang yang pertama kali lewat pintu masjid. Bangsa Quraisy pun menyetujui ide ini.

Allah subhanahu wa ta’ala kemudian menakdirkan bahwa orang yang pertama kali lewat pintu masjid adalah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Orang-orang Quraisy pun ridha dengan diri beliau sebagai penentu keputusan dalam permasalahan tersebut.

Rasulullah pun kemudian menyarankan suatu jalan keluar yang sebelumnya tidak terpikirkan oleh mereka. Bagaimana jalan keluarnya?

Beliau mengambil selembar selendang. Kemudian Hajar Aswad itu diletakkan di tengah-tengan selendang tersebut. Beliau lalu meminta seluruh pemuka kabilah yang berselisih untuk memegang ujung-ujung selendang itu. Mereka kemudian mengangkat Hajar Aswad itu bersama-sama. Setelah mendekati tempatnya, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam-lah yang kemudian meletakkan Hajar Aswad tersebut.

Ini merupakan jalan keluar yang terbaik. Seluruh kabilah setuju dan meridhai jalan keluar ini. Mereka pun tidak jadi saling menumpahkan darah.

Akhir Pembangunan Ka’bah
Bangsa Quraisy akhirnya kehabisan dana dari penghasilan baik-baik yang mereka kumpulkan. Mereka akhirnya menyisakan bangunan Ka’bah di bagian utara seukuran enam hasta yang kemudian disebut Al-Hijir atau Al-Hathim.

Mereka juga membuat pintu Ka’bah lebih tinggi daripada permukaan tanah. Setelah bangunan Ka’bah mencapai ketinggian lima belas hasta, mereka memasang atap dengan disangga enam sendi.

Ka’bah pun selesai dibangun kembali. Tingginya sekarang lima belas meter, panjang sisinya di bagian Hajar Aswad dan sebaliknya adalah sepuluh meter. Hajar aswad sendiri diletakkan satu setengah meter dari lantai. Adapun sisi yang lain panjangnya dua belas meter. Pintu Ka’bah diletakkan dua meter dari permukaan tanah. (*)

Sumber: Kisah Ka’bah, Penerbit Al-Ilmu Jogjakarta.

Ditulis dalam Sirah Nabawiyah

Chord Kotak Pelan Pelan Saja

[intro] C F

C Em F G
ku tahu kamu pasti rasa
C F G
apa yang ku rasa
C Em F G
ku tahu cepat atau lambat
Am Dm G
kamu kan mengerti

C Em F G
hati bila dipaksakan
C F G
pasti takkan baik
C Em F G
pantasnya kamu mencintai
Am Dm E Am
yang juga cintai dirimu
F G
cinta kamu

[chorus]
F G C
lepaskanlah ikatanmu
Dm G C Em
dengan aku biar kamu senang
F G C Am
bila berat melupakan aku
F Dm C
pelan-pelan saja


C Em F G
tak ada niat menyakiti
C F G
inilah hatiku
C Em F G
pantasnya kamu mencintai
Am Dm E Am
yang juga cintai dirimu
F G
cinta kamu

[chorus]
F G C
lepaskanlah ikatanmu
Dm G C Em
dengan aku biar kamu senang
F G C Am
bila berat melupakan aku
F Dm C
pelan-pelan saja

[solo] Am G F E
Am G F E
Am G F

Dm G C
pelan-pelan saja


[chorus]
F G C
lepaskanlah ikatanmu
Dm G C Em
dengan aku biar kamu senang
F G C Am
bila berat melupakan aku

Dm Em F
pelan-pelan saja
Dm G C
pelan-pelan saja

[ending] C F C

F C
pelan-pelan saja

Chord The Rock Selir Hati

C G Am F Em Dm

C G Am
aku cinta kamu
F Em Dm
tapi kamu tak cinta aku
G F Em Am Dm
ku tak pernah tahu apa salahku
G Fm C
hingga kamu tak suka aku
Fm C
tak mau aku

C G Am
mungkin di matamu
F Em Dm
aku tak pantas untukmu
G F Em
tapi tak mengapa
Am Dm G Fm C Fm C
aku sadari kekuranganku ini


[chorus]
C G Am
aku rela oh aku rela
F Em Dm
bila aku hanya menjadi
G F Em Am
selir hatimu untuk selamanya
Dm G Fm C
oh aku rela ku rela

C G Am
aku sudah bilang
F Em Dm
ku kan terus mengagumi
G F Em Am Dm
ku kan terus cinta terus merindu
G Fm C
meski kau diam saja
Fm C
kau diam saja


[chorus]
C G Am
aku rela oh aku rela
F Em Dm
bila aku hanya menjadi
G F Em Am
selir hatimu untuk selamanya
Dm G Fm C
oh aku rela ku rela

E B C#m
aku rela ooo aku rela
A G#m F#m
bila aku hanya menjadi
B A G#m C#m
selir hatimu untuk selamanya
F#m B Am E
ooo aku rela ku rela
F#m B Am E
ooo aku rela ku rela

[interlude] E B C#m
A G#m F#m
B A G#m C#m
F#m B Am E

E B C#m
aku rela ooo aku rela
A G#m F#m
bila aku hanya menjadi
B A G#m C#m
selir hatimu untuk selamanya
F#m B Am E
ooo aku rela ku rela
F#m B Am E
ooo aku rela ku rela
F#m B Am E
ooo aku rela ku rela
F#m B Am E
ooo aku rela ku rela

Selasa, 13 April 2010

Chord Ungu Akulah Cintamu

Chord Ungu Akulah Cintamu
Author : Chord Frenzy
[intro] D A 4x

D A
kucoba mengerti apa arti dirimu untuk aku
D F#m
mencari cinta terakhir dalam hidupku
D A
berharap takdirmu kan temukan diriku disisimu
D F#m E D
slamanya bersama dan tak pernah terpisah aa aaa
F#m E D
slamanya, seakan hari tak akan terulang lagi

[chorus]
A F#m
akulah cintamu, akulah kekasihmu
Bm E
yang selama ini slalu besertamu
A F#m
akulah rindumu, akulah mimpi indahmu
Bm E
yang terakhir dalam pencarianmu

[interlude] D
A F#m Bm E

A F#m
akulah cintamu, akulah kekasihmu
Bm E
yang selama ini slalu besertamu
A F#m
akulah rindumu, akulah mimpi indahmu
Bm E
yang terakhir dalam pencarianmu

Chord Ungu Cinta Gila (OST Sang Pemimpi)

[intro] D5 A5-A#5 A5 G5 G5 F5-E5
D5 A5-A#5 A5 G5 C5-C#5-D5

Dm A
Tahukah kalau apa yang kau lakukan itu
Gm Dm
Tahukah kau siksa diriku
Dm A
Bertahun kunantikan jawaban dirimu
Gm Dm
Bertahun-tahun ku menunggu

Dm A
Kau sangka aku akan menyerah
Gm Dm
Kau sangka aku akan pasrah
Dm A
Dirimu tak perdulikan aku
Gm Dm
Walau cinta hanya untukmu
Gm Dm
Walau kasih hanya untukmu
Gm Dm
Walau sayang hanya untukmu
A
untukmu untukmu untukmu

[chorus]
D5 A5 A5 C5 B5 A5
Kau Mimpi-mimpiku
E5 E5 F5 G5 A5
Cinta gilaku
E5 E5 F5 E5 D5
Hanya padamu

A5 C5 D5 A5 A5 C5 B5 A5
Hanya kau Belahan jiwa
E5 E5 F5 G5 A5
Cinta membara
E5 E5 F5 E5 D5
Tiada tara

[interlude] Dm Gm Dm
Dm Gm Dm

A
untukmu untukmu untukmu

[chorus]
D5 A5 A5 C5 B5 A5
Kau Mimpi-mimpiku
E5 E5 F5 G5 A5
Cinta gilaku
E5 E5 F5 E5 D5
Hanya padamu

A5 C5 D5 A5 A5 C5 B5 A5
Hanya kau Belahan jiwa
E5 E5 F5 G5 A5
Cinta membara
E5 E5 F5 E5 D5
Tiada tara

[outro] D5 A5-A#5 A5 G5 G5 F5-E5
D5 A5-A#5 A5 G5 C5-C#5-D5
D5 A5-A#5 A5 G5 G5 F5-E5
D5 A5-A#5 A5 G5 C5-C#5-D5