Setelah lama aku merasakan cinta, akhirnya aku berstatus pacaran. Dan memulai kehidupan baru. Memang benar. Cinta itu tak perlu 100% akan berbuah harmonis dan tentram. Saling percaya, tak ada khawatir berlebihan. Meski tetap kadang bertengkar kecil, karna masalah waktu. Dia (dwi) ,libur kerjanya hari minggu. Sedangkan aku hari jum'at. Jadi tiap minggu dia ke tempat kerjaku, dan tiap jum'at dia menjemputku untuk makan malam setelah dia pulang kerja. Hebat ya dia.. Bahkan kadang dia bolos kerja hanya untuk keluar denganku. Dan dia tak pernah mengeluhkan itu. Memang dia sifatnya sangat dewasa melebihi diriku meski umur kita terpaut sekitar 6 bulanan lebih tua aku. Malahan aku yang slalu di kasih arahan baik karna kemanjaanku.. Dia memang luar biasa,dan karna kedewasaannya itu membawa kepada suatu pilihan baginya. Suatu ketika, dia sebagai wanita sudah saatnya dia untuk melangkah menuju rumah tangga. Sedangkan aku, pekerjaanku saja masih belum mapan. Sebenarnya dia ingin memperkenalkanku pada keluarganya, namun karna aku belum mapan, dia tak pernah melakukan itu. Pastilah jika aku dikenalkan pada orangtuanya,akan disuruh langsung menikah. Dia takut melangkah ke pelaminan melihat kurang mapannya aku. Begitupun aku.
Sampai suatu saat, dia dijodohkan orang tuanya. Memang dia jujur denganku dengan alasan itu dan memutuskan hubungan kita. Pastilah aku merasakan sakit..
Mulai dari sini aku ceritakan orang ketiga yang akan mengisi hidupku. Baru akan ya.. Hehehe.. Sebut dia Tri. Sebenarnya pertama kali aku bertemu Tri, sudah ada sinyal sinyal perasaan jauh sebelum aku kenal Eka dan Dwi. Karna kita adalah rekan kerja. Namun dalam hati aku tak pernah sedikit pun akan bisa dicintainya. Secara dia adalah tipe wanita yang memilih laki" yang bisa memberikan fasilitas. Fasilitas disini adalah sebuah keutamaan. Jika dia butuh sesuatu, silaki" siap. Sedangkan aku, untuk diriku sendiri saja pas pasan. Namun dia sejak lama sudah memberikan isyarat isyarat. Hanya aku yang kurang peka. Mana mungkin Tri bisa mencintaiku, mungkin hanya perhatian sebagai sahabat. Dalam fikiranku menepis isyarat dari Tri. Karna aku tak ingin terlalu berharap. Hingga saat aku sudah putus dengan Dwi, Tri memberikan isyaratnya , memang aku tak pernah sadar. Karna aku juga masih masa berkabung setelah aku putus dengan Dwi. Disamping itu Tri juga sudah berpacaran dengan orang lain. Setelah beberapa bulan, Dwi hadir kembali. Tiba tiba dia bilang meminta balikan pacaran denganku. Dia menceritakan kenapa dia bisa meninggalkan calon suami yang ibunya pilihkan. Karna laki" tersebut tidak seperti apa yang diharapkan ibunya Dwi. Malah ibunya Dwi yang meminta untuk memutuskannya. Tak perlu lah aku sebutkan kejelekan orang, pokoknya alasan itu membuat Dwi kembali padaku. Aku menerimanya dan memaafkannya setelah dia meninggalkanku.
Disaat yang hampir sama, Tri memutuskan hubungan dengan pacarnya, karna dia sebenarnya menginginkanku. Meski aku sendiri tidak tahu.
Setiap Dwi datang ketempat kerjaku, masih seperti dulu tiap libur pasti menemuiku ditempat lerjaku. Tri selalu marah denganku. Aku tak pernah sadar jika dia cemburu oleh Dwi. Dan waktu berjalan semakin lama. Akhirnya Tri memiliki pacar baru, mungkin karna dia lelah menantiku. Meski status hubunganya aku tau bukan karna cinta. Hanya pacarnya yang cinta Tri, tapi Tri tidak.
Aku pacaran dengan Dwi, dan Tri sudah memiliki pacar jg. Masih saja Tri memberikan sinyal terhadapku. Dan masih sama aku tak pernah menyadarinya. Apalagi aku sudah punya Dwi. Sifatku memang sangat mengutamakan kesetiaan. Jadi tak kan pernah aku bisa berpaling dan mendua dengan Tri. Apalagi Tri jg sudah punya pacar.
Masa berlalu dan suatu ketika Dwi ingin bilang serius terhadapku. Dia bilang kepadaku ingin meninggalkanku. Dia ingin pergi jauh keluar pulau untuk meniti karir menyusul kakaknya. Mungkin jika saat itu aku sudah mapan, aku bisa menghalangi niatnya dan mengajaknya melangkah ke pelaminan. Saat itu aku tak kuasa menahan sakit dan kutateskan airmata didepannya. Meski awalnya cinta ini padanya tidak begitu dalam. Namun setelah apa yang kita lalui selama ini yang membuat tumbuhnya cintaku padanyalah yang akhirnya kuteteskan airmata. Untung waktu itu ditempat sedikit agag gelap meski ditempat ramai. Jadi, tak khawatir jika aku menangis saat itu juga. Dan memang aku tak peduli jg mau dimana. Sakit, sakit saja hati ini. Lama kita bernegosiasi, akhirnya mau tidak mau aku bisa menerima keadaan itu. Dan dalam hati kecilku, suatu saat aku bisa menyusulnya dan bersama lagi.
Setelah itu kita berpisah. Namun aku masih mencintainya, dan masih bertekat suatu saat bisa menyusulnya. Dan kita masih kontek kontekan lewat sms. Dia belum berangkat karna menunggu sesuatu.
Suatu saat dia pamit padaku pergi ke luar kota. Masih belum keluar jawa, hehe..
Kerumah neneknya dia bilang. Aku percaya saja, karna selama dulu kita pacaran, kepercayaan itu kuat kepadanya.
Namun tak lama setelah itu aku mendengar dari temannya jika dia sudah punya pacar. Dan pacarnya beralamat kota tujuan yang waktu dulu dia pamit kerumah neneknya kepadaku. Wuuuh..... Langsung saja rasa cinta ini berubah total. Berbalik aku tak ada perasaan sama sekali.
Dan akhirnya aku terpuruk.. Patah hati...
Kempatan untuk Dwi tak kan pernah aku berikan, setelah apa yang dia lakukan terhadapku. Jika suatu saat dia kembali.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar